Menyoal: Orientasi Pendidikan Di Indonesia

04 Mei 2021

      Mengingat sebentar lagi hari pendidikan nasional, sudah sepatutnya kita merefleksikan bersama tentang dunia pendidikan yang ada di Indonesia. Di sini saya tidak akan membahas tentang reshuffle kabinetnya pak dhe, perubahan terkait penggabungan kemendikbud dan kemenristek yang kemudian di sebut kemendikbud, ristek. Hemat saya apapun yang dilakukan pak dhe itu semua demi Indonesia maju dan mampu bersaing dengan Negara lain, terutama dalam bidang pendidikan.

     Tujuan pendidikan Indonesia itu sendiri termaktub dalam UU no 20 tahun 2003 Bab II pasal 3 yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi: manusia yang beriman dan bertqwa kepada tuhan yang maha esa , berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Semua tujuan tidak akan terwujud apabila tidak ada ketersalingan antar semua pihak.

     Melihat pendidikan di Indonesia pada era globalisasi sekarang kita harus terus optimis dan mampu membatu mensukseskan kebijakan yang telah di buat oleh mas mentri tanpa terlepas dengan ktitik-kritik yang membangun. Melihat orientasi pendidikan yang di bangun mas mentri, saya membaca, memahami berbagai literature kebijakan yang di buatnya sampai kepada menganalis. Orientasinya mengarah ke berbagai aspek, seperti percepatan digitalisasi dan teknologi, minat dan bakat peserta didik, yang sudah di tanamkan sejak dari SD melalui bapa/ibu guru dengan tidak menyamaratakan dalam bersikap terhadap semua peserta didik melainkan menumbuhkan keaktifan, kreatif dan critical thinking dalam pembelajaran di kelas. Kelas akan menjadi ramai dengan diskusi yang mengasyikan dan sekolah akan menjadi tempat yang nyaman dalam membantu peserta menjadi manusia yang utuh. Manusia yang memanusiakan manusia, atau mengangkat harkat dan martabat manusia atau human dignity, yaitu untuk mengangkat manusia menjadi pemimpin di bumi dengan tugas dan tanggung jawab memakmurkan kehidupan dan memelihara lingkungan tanpa terlepas mengamalkan nilai-nilai spiritual yang berlaku.

    Namun sedikit mengkritisi pada era globalisasi sekarang bukan semata-mata mendatangkan dampak positif, dengan kemudahan-kemudahan yang di dapat dalam membantu mewujudkan  pendidikan yang ideal,  melainkan adanya kemudahan semua itu secara tidak langsung menjadikan disorientasi pendidikan. Pendidikan cenderung pada kebutuhan pragmatis, atau kebutuhan pasar, lapangan kerja sehingga ruh pendidikan sebagai pondasi budaya, moralitas, dan social movement (gerakan sosial) menjadi hilang. Peserta didik yang tidak lain masuk dalam dunia pendidikan indinesia, kini  Sikap melestarikan budaya pribumi mulai luntur, terselip oleh budaya luar yang masuk. Moralitas, adab peserta didik mulai turun dengan maraknya pergaulan bebas yang dapat di akses di medsos tanpa adanya filter dari orang tua, gerakan sosial yang mulai hilang, Peserta didik lebih suka dengan gadgetnya masing-masing, apatis terhadap kondisi sosial lingkungannya. Pendidikan telah menjauhkannya dari kehidupan. mereka hanya di beri materi, tugas menumpuk yang sama sekali tidak menyentuh dengan persoalan kehidupannya.

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree