Gusdur sapaan akrab KH. Abdurrahman Wahid, Beliau lahir dari kalangan pondok pesantren, siapa yang tak mengenal gusdur? Laki laki putra KH. Wahid Hasyim mantan menteri agama republik Indonesia di kabinet pertama. Apalagi Simbah beliau adalah Hadrotussyaikh KH Hasyim Asy'ari pendiri pesantren Tebuireng sekaligus tokoh Pendiri NU organisasi terbesar di dunia Dan pahlwan nasional. Melihat sanadnya beliau saja semestinya kita sudah tertunduk hormat karena darah biru kepesantrenan sangat melekat terhadap beliau, siapa yang tak mengaguminya? Saya kira tak ada satu orangpun yang dapat membantah kebesaran peran perjuangan Tebuireng dalam andilnya mewujudkan Indonesia merdeka.
Rasanya baru kemarin saja peralihan di tahun 2017 dari Stain Pekalongan menuju IAIN Pekalongan, sekarang sudah gencar saja saya melihat di media sosial kampus tentang hastag hastag #ROADTOUIN.
Ya siapa yang tidak mau ijazahnya UIN? Saya kira semua akan lebih PD jika ijazahnya UIN, Walaupun bukan jaminan tetapi tidak bisa ditambah bahwa dengan UIN inilah semua akan naik level standardisasi dan segala menejemennya.
tetapi mengapa ya? Nama yang dipilih kok Gusdur? bukan tokoh Pekalongan saja seperti KH Syafi'i bin Abdul Majid, Habib Hasyim bin Yahya atau kiai dan habib lainnya yang masyhur dari Pekalongan?
Siapkah ketika gusdur menjadi nama besar kampus rahmatallialamin? Dari segi kurikulum kita harus mengoutputkan semua fakultas mempunyai watak ke Gusdurian? Nama bukan tentang slogan, seperti Rahmatallialamin dan tagline kampus mislanya, mana manfaatnya bagi masyarakat sekitar yang tercermin dari mahasiwa, dari civitas akademika,dari alumni kampus? Yang di cap oleh masyarakat bahwa IAIN Pekalongan adalah pejuang Islam Rahmatallialamin, yang mengedepankan taglinenya?
Pembahasan kurikulum tentang manifesto gusdur saya yakin sangatlah berat, karena gusdur bukan hal yang simpel dipahami beliau sebagai sosok pejuang kemanusiaan saja, akan tetapi didalam darah perjuangannya gusdur memiliki kontribusi andil besar dalam berbagai pernanannya di mata dunia, beliau juga budayawan, jurnalistik,agamwan, politikus, dan masih banyak lagi, yang memang puncaknya adalah gusdur pejuang kemanusiaan.
Saya kira inilah yang perlu dimatangkan dalam ROADMAP Kampus, bahwa substansial nama kampus bukan hanya slogan atau taglinenya akan tetapi himmah dalam mewujudkan cita cita perjuangan tokoh tersebut yang kita pakai sebagai nama kampus.
Kita sama sama menyadari bahwa PTKIN selalu membawa nama tokoh tokoh besar, seperti walisongo misalnya. Harapan kami gusdur yang sangat kami banggakan tidak hanya sebagi jargon akan tetapi ideologisasi yang mapan bagaimana gusdur yang sudah besar dan kita hanya menikmati kebesaran gusdur inilah semestinya harus hati hati dan malu dalam menyusun Skema program kampus kedepan agar kita mampu meneruskan semangat juang tokoh yang kita sematkan dalam almamater.
Salam hormat kepada semuanya selamat bertugas karena kita bertugas sebagai agen perubahan yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa.